Kamis, 30 Maret 2017

Tentang Pertemanan

Saat ini saya sedang sedih. Ada banyak hal yang saya pikirkan saat ini. Ada banyak kecemasan yang tengah saya alami saat ini. Hal yang sering kali membuat saya sedih adalah, bukan karena banyaknya masalah saya, atau seringnya saya mengalami kecemasan. Tapi, rasa sendiri yang tiba-tiba menyelimuti, jika saya tengah mengalami hal-hal tersebut.
Menjadi Introvert, bukan tentang kemahiran mereka menganalisa dan kepandaian mereka, yang kata sebagian orang sangat mengangumkan. Tapi juga tentang rapuhnya mereka, tentang ringkihnya perasaan mereka. Saya mengatakan ini karena saya kerap mengalami perasaan sendiri itu. Bukan karena tak ada teman, dan bukan karena kami mengecilkan peran mereka yang sering ada untuk kami. Tapi, saya merasa, kadang butuh “klik” tertentu untuk dapat terkoneksi dan membuka ruang dihati kami untuk kemudian kami berbagi dan merasa tak sendiri lagi. Dan sayangnya, tak semua orang dapat “klik” yang saya maksud.
Saya sendiri kurang mengerti apa klasifikasi atau syarat untuk seseorang hingga dapat “klik” terhadap perasaan saya. Kadang ada orang yang datang begitu saja lantas “klik” itu tiba. Kadang butuh proses lama sampai teman saya tersebut nyaris menyerah membuka lapis demi lapis ruang ketertutupan saya, hingga akhirnya saya membagi tempat diruang pribadi saya.
Dan inilah yang membuat saya sedih. Kadang, ada orang yang sudah dapat “klik” dan akses bebas keluar masuk ruang pribadi saya, bahkan saya sudah menyerahkan “kunci” cadangan untuk mereka hingga mereka bebas keluar masuk kesana, tapi mereka mengecewakan saya, atau mereka tak lagi dapat memenuhi kebutuhan saya akan keberadaan mereka, karena kesibukan mereka atau karena jarak yang membuat sulitnya bersua.
Saya ingin cerita tentang seorang teman yang baru saya kenal sekitar 4 tahun yang lalu. Dia seorang pria yang berasal dari pulau seberang. Dia lebih tua 4 tahun dari saya. Dia adalah seorang perantau yang saya kagumi. Dia sudah yatim piatu sejak lama. Sikapnya yang dewasa dan tenang meski kadang jahil dan ga jelas membuat pertemanan saya dengannya terasa sangat menyenangkan.
Tidak seperti teman-teman perempuan saya, yang jika bertemu maka kami akan asyik bergosip. Dengannya, saya sering terlibat diskusi serius meski kadang dihiasi tawa saat dia mulai bertingkat aneh atau mengatakan joke-joke receh khasnya. Saya banyak belajar hidup dengannya, saya merasa mendapatkan sosok kakak laki-laki yang selama ini saya cari.
Seperti yang sudah-sudah, jika bertemu orang baru maka saya akan sangat defensif, sebisa mungkin menutup rapat pemikiran saya. Saya teringat pertama kali ngobrol dengannya, dia bercerita tentang masa-masa gelap hidupnya, terlibat penipuan beromzet belasan juta, mabuk, clubbing. Dia bilang dia menjadi pemuda yang benar-benar jauh dari agama. Dan itu diceritakannya saat pertama kali kami terlibat ngobrol panjang, ya, dikontrakannya malam itu dia bercerita tentang kehidupan pribadinya. Saya kagum dengan sikap terbukanya, saat saya tanya kenapa dia ceritakan itu semua, dia bilang dia percaya saya, dan mengganggap saya adalah temannya.
Dianggap teman – dipercaya – adalah sesuatu yang sangat saya hormati. Saya terkesima sekaligus mulai menaruh percaya padanya. Meski malam itu saya masih tertutup, tapi pertemuan dan obrolan kami selanjutnya, saya mulai secara perlahan membuka diri saya dan memberikannya “kunci” ruang pribadi saya. Saya mulai nyaman menceritakan apapun, dari hal-hal besar dan rahasia sampai hal remeh misalnya betapa nyebelinnya orang yang makan bersuara atau jijiknya penampilan bubur yang diaduk.
Namun kedekatan saya dengan dia hanya berjalan kurang dari setahun, karena setelah itu, tidak lama dia menikah. Dia menjadi suami orang lain, dan juga ayah dari seorang bayi laki-laki lucu. Sejak dia menikah, otomatis waktu yang kami habiskan untuk sekedar ngobrol dan bercengkrama menjadi sangat jarang. Saya maklum, dengan statusnya saat ini. Dia menjadi lebih sibuk. Keluarga kecilnya lebih berhak atas waktunya ketimbang saya.
Kadang pikiran saya untuk menghubungi dia kalah dengan keengganan saya menggangu dia. Sehingga perlahan kami tak lagi sedekat dulu, tapi saya akan tetap terbuka dengan dia jika kami kebetulan memiliki kesempatan bertemu dan berbicara. Dia sudah memegang kunci “ruang pribadi” saya, meski kadang kecewa karena kerap tak dapat berbagi ketika saya butuh teman bicara, tapi saya tetap mengganggap dia salah satu teman dekat terbaik saya.
Selain dia, adakah teman dekat saya yang lain ? ada, beberapa teman dekat yang saya sangat hargai dan saya pedulikan. Rata-rata dari mereka hanya memegang 1 puzzle curhatan saya, ada yang hanya saya ceritakan mengenai kerjaan, ada yang hanya soal asmara, ada juga yang hanya soal keluarga. Saya tidak membiarkan satu orang teman saya memegang semua rahasia dan cerita saya. I have big issue about trusting people. Jadi saya tak pernah benar-benar menceritakan diri saya secara utuh pada orang lain.
Makanya, seperti yang sudah saya ceritakan ditulisan saya yang lain, kadang saya lebih suka cerita lewat tulisan ketimbang ngobrol sama orang yang saya kira tidak pas. Dan saat ini, ketika paragraf ini saya tulis, saya merasa sudah lebih baik. Saya merasa sudah merasa lebih ringan, meski masalah saya tidak otomatis selesai.

Sumber Gambar : http://lifestyleproblog.me/friends/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagi yang bukan Blogger dapat memberi komentar dengan cara memilih form Name/URL pada link Berikan komentar sebagai :
isi Name dengan Nama lalu isi Url dengan Link Facebookmu.