Senin, 22 Agustus 2011

REALITA KERETA, MAHER ZAIN DAN KOTA BOGOR


Selamat Senin teman teman !
Gimana puasa hari ke 22 nya ? wah ga kerasa yah kita udah mau lebaran ajah.. dikit lagi cuy, seminggu lagi. Kalu saya sih ngerasa lebih ke sedih daripada ke senang, bukan , bukan karena sampai hari ini saya belum dapet THR, bukan juga karena saya belum beli baju baru atau celana baru, bukan juga karena sepertinya saya akan tetap bekerja bahkan  1 hari sebelum lebaran,bukan juga karena nanti pas lebaran saya masih jomblo  #jleb!

Tapi, yag bikin saya sedih adalah ..
Kalau dipikir-pikir mungkin ini adalah ramadhan terburuk yang pernah saya jalani. Karena saya merasa telah melewatkan banyak sekali kesempatan untuk beribadah. Saya banyak melewatkan tarawih, tadarus, bahkan sholat wajib pun kebanyakan telat. Jangankan sholat sunnah yang wajib aja kadang malah kelewat.

heuheu payaahh ..

Baiklah .. lupakan kegalauan saya barusan ..
Hari ini saya kembali membawa sampah  cerita lewat postingan kali ini dan hendak berbagi kepada kalian.
Kisah maha remeh ini saya alami minggu kemarin  14 agustus 2011. Tapi baru sekarang saya posting sebab mood nulis saya baru nongol lagi. Bericut kisah selengkapnya


Cast :
Murodi oddie Shamad a.k.a odi: labil, hemat, berwajah imut #plakk !, sederhana, rapih, baik hati, tidak sombong, rajin menabung di jamban  celengan dan bercita-cita membahagiakan orangtua #Jiah!
Kido Arki Hendra a.k.a arki : sama labil, hemat, keras kepala, berwajah jenaka #ress, sensitive, pintar, cukup baik, de el el

Dan sederet bintang-bintang tidak tenar yang akan saya ceritakan kemudian
Hari masih panas ketika saya berjalan keluar rumah. Jam 11an siang di bogor sudah serupa dengan Jakarta atau daerah panas rawan maksiat lainnya terlebih di bulan puasa macam ini . jauh jauh deh itu istilah bogor kota yang sejuk. Heu itu Cuma milik warga bogor yang deket deket puncak. Lah kalo saya yang tinggal di bogor utara yang notabene lebih dekat dengan depok dan Jakarta., cuacanya sangat panas, kisaran 28-35 derajat celcius ( mungkin) .  Panas yang merangsang macam ini adalah suatu yang lumrah meski tetap saja saya tidak terbiasa. Terlebih memasuki bulan agustus. Yang saya pikir adalah puncak musim panas. Hujan yang biasanya mampir tiap sore dan reda ketika malam tiba hanya sesekali menyirami daerah saya. Mungkin dari bulan april sampai sekarang bisa di hitung jumlah hujan yang kami alami. Sungguh mengenaskan. Ini mungkin akibat global warming yang memang sudah seperti kewajiban sebelum berakhirnya dunia.

Hari ini saya bersama arki berencana menuju sebuah pusat perbelanjaan di wilayah bogor untuk membeli beberapa barang yang kami butuhkan *penjelasan ga penting. Kami sengaja jalan jam 11an sebab tepat jam setengah dua saya ada acara pertemuan dan training tentang bisnis di sebuah gedung dekat wilayah mancur bogor.

Tepat jam 11an kami sampai, saya langsung beli tiket di loket *yaiyalah, masa di salon !. karcis dari stasiun Cilebut ( tepat kami berada ) ke stasiun Bogor ( tujuan kami ) hanya seharga Rp. 1.000,- . cukup murah bukan. Ya karena jarak antara Cilebut-Bogor itu dekat. Naik kereta macam ini paling butuh waktu 5 menitan. 
Okee, sebenarnya kami bisa gratis naik nih kereta karena siang-siang ginih biasanya tukang penagih karcis ( apa sih istilahnya ?) tidak ada. Jadi sekalipun kami tidak beli kami dapat melenggang dengan aman keluar stasiun. Namun karena kami berdua adalah pemuda-pemuda imut yang taat hukum dan cinta perdamaian maka kami selalu membeli tket tersebut. Ya itung-itung sedekah aja. Haha. Hebatkan kami ?

Selepas membeli tiket kami meninggu kereta cinta yang akan membawa kami ke bogor itu.

10 menit,
30 menit
1 jam …

Itu kereta kaga dateng dateng !

Blegug !

Hawa panas yang menyengat, kondisi puasa yang saya jalani dan bocah laknat yang sedang makan jambu biji merah disamping saya,eh sorry bukan bocah laknat, tapi pemuda jahanam karena itu orang sudah tak pantas di anggap bocah, membuat emosi labil saya naik turun. Serius saya kesal sekali !

Sampai jam 12an itu kereta kaga juga datang. Beberapa penumpang terlihat sama kesalnya dengan saya entahlah apa yang mereka pikirkan. Sedari tadi hanya kereta jurusan ke Jakarta saja yang hilir mudik. Sekalipun ke Bogor, yang lewat hanya kereta commuter saja. Masa iya saya mau ke bogor aja kudu naek commuter yang harga tiketnya Rp.7.000,-? Itu kan sangat melanggar prinsip hemat yang saya anut. Mending jalan deh ketimbang ngeluarin duit segitu *entah kenapa saya begitu bangga menunjukkan betapa hematnya saya kepada kalian*

Baik kembali ke kereta, jam 12an lewat, arki mngajak saya untuk sholat dulu, oh iya saya lupa menjelaskan aktivitas apa yang sedari tadi dikerjakan arki. Ia begitu sibuk dengan Hape saya. Ia sibuk facebook-an. Itu mungkin yang menyebabkan ia tidak serewel saya.

Sebenarnya saya tidak yakin, takut, takut kalau selagi saya sholat itu kereta ntar muncul yang otomatis membuat saya harus menunggu lebih lama. Atau mungkin sangat lama. Namum arki meyakinkan saya. Kata dia keretanya aja masih di depok pasti masih sangat cukup untuk kami sholat.

Kami mencari mushola atau masjid. Dengan cepat kami menemukan masjid tersebut. Yaiyalah, kami sering bolak-nbalik ke cilebut jadi sudah paham daerah sini. Belum lagi karena salah satu kegiatan remeh favorit kami adalah suka jalan-jalan. Benar-benar jalan-jalan. Iya pake kaki, kami suka mencari jalan baru atau jalan alternatif yang kami duga akan mempercepat perjalanan kami jika ke tempat itu lagi. Beberapa berhasil. Tapi lebih sering gagal.

Kami sampai sebelum dzan berkumandang. Terlhat di beranda masjid banyak manusia-manusia bergelimpang tengah lelap dilumat mimpi ( apa sih ?). arki tampak kebingungan. Setelah saya mengajaknya berwudhu. Dan ternyata kawan-kawan. Sebuah kebiasaan yang tidak didukung oleh persiapan teknis yang memadai memang akan mengakibatkan kerepotan yang cukup menyita waktu. Itu orang ( arki ) tidak membawa sarung. Padahal dia pake celana pendek. Soo ituu tas apa isinya ? kenapa ga bawa sarung. Heu, ia sibuk mencari sarung selama saya smsan. Tapi nihil. Akhirnya kami urungkan niat sholat ditempat itu dan beralh ke masjid lain. Berharap di masjid lain itu ada sarung. Tapi tetap nihil. Akhirnya saya sholat semdiri. Saya saran kan ia sholatnya nanti setelah sampai rumah.

Kami kembali ke stasiun. Kereta Cinta itu belum jua datang. Saya tengok jam tangan milik arki. Hampir setengah satu. Kami lelah dan cape. Menunggu adalah pekerjaan terkutuk yang dibenci sejagad umat.

13.45 ..

Dari corong stasiun petugas KAI mengumumkan kedatangan kereta ekonomi tujuan bogor. Oohh kalian pasti tidakk bisa merasakan kejengkelan sekaligus kesenangan yang datang secara bersamaan.  Hampir-hampir saya menjilati peron stasiun saking kesalnya. Tapi berita cinta itu datang bak air yang turun di gurun sahara. Atau seperti ketika jam bel pulang berdering ketika guru yang membosankan mengoceh tatkala saya masih sekolah dulu.

Melihat moncong kereta mulai terlihat. Saya ingin sekali mengambil sejumput bunga dan melemparkannya ke kereta itu ketika ia lewat  sambil menari-nari bahagia dan bernyanyi. Menggunakan baju sari khas india sambil memainkan selendang berwarna orange atau kuning terang.
Baik, itu tadi berlebihan.

Saya akhirnya naik. Beberapa penumpang lain. Khususnya pedagang asongan tetap saya mengumpat. Bahkan ada yang menancam akan ngambeg sama tuh kereta. Idiihh sape loh ? haha becanda,
Daaaan  ….kalian para pencinta Maher Zain pasti kebingungan dimana letak maher zainnya ? padahal saya memberi judul ada kata-kata Mas Bronya .

Jadi giniloh.. ketika saya naek itu kereta. Saya satu gerbong dengan sekelompok pengamen. Nah itu pengamen ternyata menyanyikan lagu masbro yang Insha Allah..

wihh betapa senangnya saya. Saya sendiri ga tau apa yang bikin seneng. Lah itukan lagu orang. Kalo dapet duit juga saya ga akan kebagian. Tapi eitss .. bukan duit yang jadi nilai takaran disini. Tapi kepuasan batin dan rasa bangga. Dan yang bikin saya seneng lagi. Pengamen itu membawa lagu maher Zain dengan cukup bagus. Alat music yang terbilang lengkap dan suara penyanyinya yang lumayan merdu membuat lagu itu sepertimengalir dengan tenang. Saya pun dengan sukarela memberikan sedikit uang sebagai apresiasi atas karya yang mereka hasilkan. Padahal saya paling anti ngasih-ngasih bgituan. Jangankan pengamen. Nenek-nenek yang minta-minta aja jarang saya kasih ( emang kaga punya duit sh ) * kembali saya seperti begitu bangga menjelaskan kehematan saya*. Saya sempat berdebat dengan arki sebab dia bilang kalo itu bukti maher zain pasaran . what the hell ! heh  maher zain itu lagi ngehits bahkan mengalahkan wali, ungu atau haddad alwi. Jadi bukan pasaran. Emang karya masbro aja yang bagus dan banyak disukai.

Lepas lagu maher zain. Mereka berganti mendendangkan lagu Wali. Saya lupa lagu apa yang mereka nyanyikan. Hha! Andai saja semua pengamen bisa berkarya secara serius seperti ini. Pasti citra pengamen sebagai penyandang tuna social akan berganti dgn lebih terhormat.

Kita percepat ceritanya. Akhirnya kami sampai di pusat perbelanjaan yang dimaksud. Dan betapa tercengannya saya. Dari mulai perjalanan dari stasiun kesini sampi ke depan itu pusat perbelanjaan. Bergelimpangan disepanjang jalan kera-kera yang menyerupai manusia yang tengah makan dan minum dengan acuhnya ditengah hari ! dan di bulan puasa pula ! wajar kalo mereka nonmuslim lah ini tampangnya kek muslim semua. Bukan saya menuduh atau apa. Tapi menurut saya kelewatan. Saya tidak yakin itu nonmuslim karena saya merasa nonmuslim justru lebih menghormati bulan puasa ketimbang umat muslim sendiri. Dan itu sangat memalukan! Lebih-lebih ketika sampai di depan pusat perbelanjaan itu. Saya ga tau kenapa atau apa alasannya. tapi pihak pusat belanja itu seperti sengaja tidak menghormati bulan puasa. Mereka dengan sengaja menaruh restoran dadakan dan tempat jajanan di pintu utama. Kalo itu restoran dan tempat jajanan dibukanya pas sore hari saya maklumi. Nah ini jam 1 siang coba. Itu ibu-ibu meuni lahap lagi makannya. Belum lagi rentetan ibu-ibu lainnya yang tengah minum dengan acuhnya.

Huaaahh ..
mungkin kalian yang baca ini menanggap bahwa hal ini adalah sesuatu yang lumrah. Dan mungkin banyak dari kalian yang menganggap saya usil. Inilah fakta saat ini. Agama Allah seperti diinjak injak oleh manusia bahkan oleh manusia-manusia yang mengaku beriman pada Allah dan RasulNya sendiri. Kata teman saya hal ini adalah sesuatu yang biasa. Sebab sewaktu dia kerja di bogor. Bulan puasa atau bukan tidak ada perbedaan. orang dengan tanpa malunya makan dan minum di siang hari. Mereka dengan jelas-jelas dan berani menentang hukum dan perintah Allah. Saya sangat sdih sekaligus geram. Apa yang salah ? siapa yang mesti bertanggung jawab. Wajarlah jika suatu saat Tuhan murka dan menimpakan azabNya bagi kita. Lalu bagaimana dengan Nabi Muhammad. Apa perasaan beliau melihat umatnya semakin durhaka kepada Allah? Marahkah ? murka ? atau sedih ? jika saya boleh menebak. Maka ia pasti merasa sedih. Ingatkah bahwa Nabi begitu mencintai kita ? ia habiskan banyak waktu untuk mendoakan kita. Sadarlah. Bagaimana kita umatnya disebut bahkan sebelum Beliau menghadap Pemiliknya.

Saya mungkin bukanlah muslim yang baik. Saya begitu banyak kekurangan. Tapi saya ingin sekali mengingatkan. Ramadhan itu sekali dalam setahun. Kita tidak tahu apakah kita masih bisa menikmati anugrah Bulan Puasa Tahun depan.

Heuu,, sudah ya .. kayanya tulisan saya udah kebanyakan. Mohon maaf bila tulisan saya menyinggung atau menggunakan kata-kata kasar. Saya masih labil jadi harap maklum . sungguh tiada niat menjatuhkan dan menghina salah satu pihak. Ini hanya kritik demi perbaikan di masa yang akan datang.

Amin .

Wallahu alam..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bagi yang bukan Blogger dapat memberi komentar dengan cara memilih form Name/URL pada link Berikan komentar sebagai :
isi Name dengan Nama lalu isi Url dengan Link Facebookmu.